Bayah, Saksi Bisu Derita Romusha di Ujung Selatan Banten
HARIANBANTEN.CO.ID – Terletak di ujung selatan Provinsi Banten, Bayah kini dikenal sebagai wilayah pesisir dengan panorama alam menawan. Namun, di balik keindahannya, tersimpan kisah kelam sejarah yang jarang terungkap: kisah para romusha yang dipaksa Jepang membangun jalur kereta api Saketi–Bayah sepanjang 98 kilometer.
Jalur rel ini merupakan proyek besar Jepang saat pendudukan, yang menelan ribuan nyawa. Hingga dekade 1990-an, sisa-sisa sejarah itu masih dapat ditemui, mulai dari kerangka jembatan logam hingga kisah para saksi hidup yang pernah mengalami langsung penderitaan di masa itu.
Salah satu saksi, Pak Slamet, pria asal Purworejo, Jawa Tengah, masih mengingat getirnya masa muda saat menjadi romusha. Bersama ratusan pemuda lain, ia dikirim ke Bayah melalui perjalanan panjang dan berat dari kampung halamannya.
“Saya masih ingat, kami naik kereta api dari Jawa, lalu dilanjutkan naik truk ke Bayah. Setibanya di sana, kami ditempatkan di barak pinggir pantai yang berdinding bilik dan beratap rumbia. Dingin, bocor, banyak yang jatuh sakit dan meninggal,” kisah Slamet.
Dalam satu hari, kata dia, bisa 10 hingga 20 orang meninggal karena kelaparan, penyakit, dan kerja paksa. Mereka yang bertahan pun tak luput dari penderitaan. Bekerja tanpa alas kaki, mengenakan pakaian dari karung goni, serta hidup berdampingan dengan kutu dan nyamuk malaria yang ganas.
Saksi hidup lainnya, Pak Salam, berasal dari Kebumen, Jawa Tengah. Ia ditugaskan Jepang menjadi tukang kuda. Bersama 30 romusha lain, ia mengawal 30 kuda dari Bandung yang dibawa ke Sukabumi, kemudian berjalan kaki ke Cikotok selama empat hari. Dari seluruh rombongan, hanya ia yang selamat.
“Yang lain mati di jalan, sakit, atau menderita borok yang tak bisa disembuhkan,” tuturnya.
Kini, rel kereta yang dulu dibangun dengan darah dan air mata itu telah lenyap. Baja-baja rel konon dipreteli dan dijual sebagai besi tua setelah kemerdekaan, hasilnya digunakan untuk membeli armada bus. Sisa-sisa kejayaan proyek itu hanya tinggal puing.
Untuk mengenang penderitaan tersebut, para bekas romusha sempat membangun tugu peringatan dari beton di tengah kota Bayah. Anehnya, tugu tersebut tak dilengkapi prasasti ataupun penjelasan. Mungkin karena terlalu getir untuk dituangkan dalam kata.
“Pengalaman kami terlalu pahit untuk digambarkan,” kata salah seorang bekas romusha.
Bayah bukan hanya tentang laut dan alam indah, tapi juga ruang kontemplasi tentang sisi gelap sejarah. Mengunjungi Bayah adalah menyusuri jejak penderitaan dan ketabahan manusia dalam menghadapi kekejaman perang.
Penulis: Red | Harianbanten.co.id



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.