HARIANBANTEN.CO.ID – Sejarah penyebaran Islam di Banten tidak lepas dari peran sejumlah ulama besar yang turut membangun pondasi pendidikan dan dakwah di tengah masyarakat. Salah satu tokoh penting tersebut adalah KH Raden Mas Abdurrahman Saleh bin KH Mas Jamal, atau lebih dikenal dengan KH Mas Abdurrahman, pendiri organisasi keagamaan Mathla’ul Anwar pada 10 Juli 1916 di Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten.

KH Mas Abdurrahman lahir di Desa Janaka, Kecamatan Jiput, Pandeglang. Sumber berbeda mencatat tahun kelahirannya, antara 1868 hingga 1875. Ia wafat sekitar tahun 1943–1944 dan dimakamkan di Sodong, Cikaliung, Kecamatan Saketi, Pandeglang, di kawasan yang kini berdekatan dengan Universitas Matlaul Anwar.

Latar Belakang Pendidikan

Seperti banyak ulama pada masanya, KH Mas Abdurrahman menimba ilmu hingga ke Makkah. Pengalaman dan pemikiran yang ia bawa dari pusat studi Islam dunia itu sangat mempengaruhi arah perjuangannya di tanah air.

Sekembalinya ke Banten, ia melihat kondisi masyarakat yang terbelakang akibat kolonialisme Belanda. Umat Islam kala itu miskin, kurang mendapat akses pendidikan, dan jauh dari kemajuan. Dari keprihatinan tersebut, ia bersama para ulama lain, seperti KH Bagus Muhammad Saleh, KH Entol Muhammad Yasin, KH Abdul Muti, dan KH Mustaqfiri, mendirikan Mathla’ul Anwar sebagai wadah perjuangan umat melalui bidang pendidikan, dakwah, dan sosial.

Semangat Pembaruan

Sejak awal, Mathla’ul Anwar mengusung semangat keterbukaan pemikiran. Organisasi ini mencoba memadukan nilai-nilai modernisme Islam dengan tradisi pesantren. Langkah nyata dilakukan melalui pendirian madrasah sebagai bentuk pembaruan pendidikan Islam di Banten.

KH Mas Abdurrahman dikenal sebagai tokoh pendidikan progresif. Ia mengirim anak-anaknya ke lembaga pendidikan dengan latar belakang berbeda, baik tradisionalis maupun modernis. Sikap moderat dan inklusif ini menjadikan Mathla’ul Anwar tumbuh sebagai organisasi yang tidak terjebak dalam politik praktis, tetapi tetap konsisten memperjuangkan kepentingan umat.

Trilogi Gerakan

Gerakan Mathla’ul Anwar dikenal dengan triloginya: pembaruan pendidikan Islam, dakwah Islamiah, dan perbaikan kehidupan sosial. Dalam bidang pendidikan, organisasi ini mendirikan madrasah modern, sembari tetap mempertahankan tradisi pesantren dan kitab-kitab klasik.

Dalam bidang dakwah, para ulama Mathla’ul Anwar aktif mengirim kader ke berbagai daerah, baik di Banten maupun luar wilayah, termasuk Karawang dan Maluku Utara. Sementara dalam bidang sosial, mereka menampung santri dari kalangan kurang mampu tanpa memungut biaya.

Peran di Kancah Nasional

Mathla’ul Anwar lahir lebih dulu dibanding Nahdlatul Ulama (NU) yang berdiri pada 1926, dan empat tahun setelah Muhammadiyah yang berdiri pada 1912. Sejak awal abad ke-20, organisasi ini telah menjadi bagian dari arus besar kebangkitan Islam di Indonesia.

Kini, Mathla’ul Anwar tetap eksis sebagai salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, berdampingan dengan NU dan Muhammadiyah. Organisasi ini menjaga netralitasnya dari politik praktis, dan lebih menekankan perannya pada bidang pendidikan, dakwah, serta sosial budaya.

Warisan Perjuangan

KH Mas Abdurrahman Saleh dikenang bukan hanya sebagai pendiri organisasi, tetapi juga sebagai pemikir Islam Nusantara yang berusaha menjembatani tradisi dengan modernitas. Ia menanamkan keyakinan bahwa kemajuan umat hanya bisa diraih melalui ilmu, keterbukaan pikiran, dan keberanian untuk berubah tanpa meninggalkan akar tradisi.

Lebih dari satu abad sejak berdirinya, semangat perjuangan KH Mas Abdurrahman masih hidup dalam gerakan dakwah, pendidikan, dan sosial Mathla’ul Anwar. Warisan intelektual dan perjuangannya terus menjadi inspirasi dalam membangun bangsa yang beriman, berilmu, dan bermartabat. (red)